CSR mendorong Inovasi

Tinggalkan Komentar

Tahukah anda bahwa ternyata CSR mendorong terciptanya inovasi? Sebuah penelitian baru-baru ini yang dimuat di edisi Harvard Business Review April 2012 menunjukkan bahwa perusahaan yang melakukan CSR ternyata lebih banyak meluncurkan produk.

Hal ini disebabkan oleh lebih banyaknya perusahaan tersebut berinteraksi dengan pihak lain. Tuntutan, maupun masukan, membuat perusahaan lebih mengerti dan memahami apa yang diinginkan oleh pemangku kepentingan. Tapi yang lebih utama, interaksi dengan pihak eksternal ini memupuk pengetahuan yang berharga untuk perusahaan penyelenggara program CSR.

Jika demikian, yang menjadi tantangan berikutnya adalah bagaimana kita mengintegrasikan CSR ke dalam model bisnis, maupun strategi inovasi, dari sebuah perusahaan. Apa saja perangkatnya, dan bagaimana caranya. Mungkin saatnya untuk kita cari best practicenya.

Menarik! Sila lihat artikelnya berikut ini.

20120406-110553.jpg

Menuai Insight untuk Inovasi

Tinggalkan Komentar

Inovasi yang berpihak pada pengguna kini semakin mutlak dibutuhkan.  Sektor swasta maupun sektor publik sama-sama perlu berorientasi pengguna.  Baik pengguna barang, jasa, atau kebijakan menuntut layanan yang prima.

Inovasi yang berkesinambungan (continuous innovation) juga merupakan salah satu kunci dari pertumbuhan dan suksesnya perusahaan dan organisasi di dunia ini.  Tuntutan pasar dan kompetisi yang semakin tinggi, menuntut perusahaan untuk terus berinovasi dan menciptakan value proposition yang baru.  Hanya perusahaan yang demikian lah yang selalu akan mendapatkan tempat di tengah-tengah masyarakat.   Inovasi yang berkesinambungan juga bahkan dibutuhkan di sektor publik.  Seiring waktu, banyak kebijakan publik yang menjadi usang dan tidak lagi layak untuk diterapkan.  Oleh karena itu, inovasi seharusnya juga menjadi sebuah kebiasaan (habit) pada sektor pelayanan publik.

Untuk memperoleh inovasi yang berkelanjutan, perusahaan dan institusi pemerintah perlu berempati dan memperoleh insight dari masyarakat dan konsumen.  Apa saja yang harus diperhatikan?  Lihat disini.

Nah, Mau Produktif?

Tinggalkan Komentar

Tinggal di Jakarta belakangan ini bisa bikin frustasi.  Kemacetan lalu lintas yang semakin parah membikin penduduknya jadi semakin tidak produktif.  Bayangkan saja, perjalanan bisa ditempuh 6 jam satu harinya.  Sementara kita di kantor 8 jam.  Berarti waktu tempuh kita dari rumah-kantor-rumah bisa hampir setara dengan waktu kita bekerja di kantor.

Ini sudah sangat tidak sehat.  Banyak penduduk Jakarta yang stres.  Pekerjaan pun jadi terbengkalai.  Produktivitas jadi menurun.  Keluarga sering jadi korban lembur sang Ayah atau Ibu yang bekerja di Jakarta.

Seandainya kita menuntut pemerintah untuk memperbaiki hal ini, akan ada waktu dimana kita harus menderita luar biasa karena kemacetan dan pembangunan infrastruktur (MRT, Flyover, atau Jalur Busway) yang bersamaan dilakukan di tengah-tengah kemacetan.

Ada 5 cara, yang mulai bisa dipikirkan perusahaan, untuk diterapkan di Jakarta.

Ayo, siapa mau mulai?  Lihat disini.

Penting: Lingkungan Kondusif Untuk Berinovasi

Tinggalkan Komentar

Tahukah anda bahwa salah satu faktor terpenting dalam mewujudkan inovasi adalah adanya lingkungan yang mendukung (enabling environment).  Survei persepsi para manajer senior perusahaan ternama di Indonesia seputar inovasi menunjukkan pentingnya inovasi dipahamid engan sangat baik oleh para pemimpin perusahaan.

Fakta-fakta yang ditunjukkan oleh survei ini sepertinya mengungkap bahwa tantangan untuk inovasi tampaknya lebih banyak berada di tingkat lower dan middle management.  Ada gap yang cukup signifikan antara formulasi strategi dan eksekusi inovasi.  Para manajer madya mungkin masih cukup canggung untuk menerapkan inovasi secara menyeluruh.

Google dan Morning Star memberikan contoh agar perusahaan dapat memberikan lingkungan yang kondusif – yang pada akhirnya meningkatkan kepercayaan diri para manajer madya.

Lihat ulasan lengkapnya disini.

Inovasi yang Beretika?

Tinggalkan Komentar

Beberapa tahun belakangan ini kreativitas dan inovasi menjadi sesuatu yang banyak dibicarakan oleh berbagai kalangan di Indonesia.  Hampir semua pihak mengajurkan kreativitas dan inovasi untuk kemajuan.

Banyak pihak mulai mengadopsi komponen kreativitas dan inovasi dalam desain institusionalnya.  Banyak sekolah dan pendidikan tinggi yang mulai mengedepankan pembelajaran kreatif.  Tak sedikit pula perusahaan yang mengedepankan kreativitas dan inovasi sebagai ujung tombak untuk memenangkan kompetisi dan memperoleh pertumbuhan.

Yang menjadi tantangan kemudian adalah kenyataan bahwa inovasi adalah proses radikal.  Seberapa jauh etika penting di dalam inovasi?  Lihat ulasannya di artikel yang saya tulis di Bisnis Indonesia Minggu beberapa waktu yang lalu disini.

Kewirausahaan dan Inovasi Sosial

Tinggalkan Komentar

Masyarakat Indonesia tengah digandrungi semangat kewirausahaan (entrepreneurship). Apalagi setelah pemberitaan yang dirilis di kantor berita BBC beberapa waktu yang lalu menyatakan bahwa Indonesia merupakan tempat yang paling kondusif untuk mengembangkan kewirausahaan.  Berbagai wacana yang berkembang di tengah masyarakat pun mendukung hal ini.  Namun, ada kekhawatiran bahwa semangat kewirausahaan ini akan meredup seiring dengan berbagai hambatan yang ditemui.

Quo vadis?  Lihat selengkapnya tulisan saya yang dimuat di Bisnis Indonesia Minggu disini.

Soal Etika Jurnalistik

3 Komentar

Ini rasanya bukan yang pertama kalinya terjadi, tapi kali ini saya nilai cukup menganggu.  Saya dikejutkan oleh sebuah berita yang dimuat di laman Republika Online tanggal 25 Agustus 2011 yang menyebutkan bahwa saya “berkicau” di media twitter seputar penampakan Malinda Dee, pesakitan kasus fraud Citibank yang kesohor beberapa waktu yang lalu, di mal Pacific Place.

Republika “mengutip” saya demikian dalam beritanya: “Wah, yang di Pacific Place, apa benar Malinda Dee lagi di Imae Shabu-Shabu lantai 5?” kata Ari Margiono dalam salah satu kicauannya di akun Twitter miliknya. Ia pun mempertanyakan, bukannya Malinda Dee sedang ditahan di Rutan Bareskrim Mabes Polri. “Bukannya harusnya ditahan lagi tuh orang?” ucapnya melanjutkan.

Mengejutkan buat saya karena ada dua masalah dari “reportase” wartawan Bilal Ramadan dan redaktur Krisman Purwoko disini.  Pertama, saya hanya melakukan retweet kicauan orang lain (@d99) yang menyebutkan ia melihat Malinda Dee di Pacific Place.  Retweet itu pun saya lakukan tanpa interpretasi.  Hanya dengan menambahkan kata “Wah!”.

Kedua, sang wartawan dan redaktur tidak melakukan cek dan ricek kepada saya dan juga (mungkin) kepada nara sumber utama untuk memastikan bahwa yang bersangkutan betul melihat Malinda Dee.  Padahal saya dengan mudah bisa dijangkau lewat twitter.

Lalu, jika demikian, dimana etika jurnalistik?  Bisa kah kita percaya lagi kepada pemberitaan Republika yang lain?

Sekedar Menjadi Beda

Tinggalkan Komentar

Beberapa waktu yang lalu, di ranah dunia twitter dan media online, ada heboh soal pengiriman paket tak jelas secara serentak.  Beberapa pimpinan media, perusahaan advertising dan public relations, pimpinan perusahaan, serta beberapa tokoh di twitter mendapatkan kiriman sebuah peti mati dengan ukuran sekitar satu meter.

Usut punya usut, ternyata ini adalah undangan peluncuran buku baru Sumardi – seorang pegiat pemasaran dan CEO dari sebuah agensi yang baru akan diluncurkan.  Banyak pihak yang murka dan mengadukan hal ini ke polisi.  Sumardi pun digelandang ke kantor polisi untuk dimintai keterangannya.

Ia berkata bahwa tindakannya ini untuk menunjukkan bagaimana cara melakukan pemasaran yang menarik – agar tidak boring.

Nyentrik? Mungkin.  Inovatif dan Kreatif?  Rasanya tidak.  Mendapatkan perhatian? Pastinya.  Etiskah? Bisa jadi tidak.

Memasarkan produk/jasa tentunya harus etis.  Ada norma-norma yang harus dilihat dan dipandang sebagai rambu-rambu dalam memasarkan produk dan jasa.  Peti mati merupakan simbol kedukaan.  Mengirimkan peti mati bisa diartikan penerimanya sebagai aksi untuk mendoakan kematiannya.  Oleh karena itu, secara sinis peti mati sering dikirimkan kepada koruptor, atau sebagai alat teror.

Etika dalam pemasaran memang seringkali dilanggar atas nama kompetisi.  Para marketer sering melakukan hal-hal yang ‘mengganggu’ agar ia bisa menonjol dan beda dari produk/jasa lainnya.

Sumardi memang melakukan sesuatu yang berbeda.  Tapi apakah ia disukai oleh calon pelanggannya? Apakah tujuannya mengundang orang hadir dalam peluncuran bukunya melalui peti mati berhasil?

Jika tidak, untuk apa sekedar menjadi beda?

Lagi, Konsep Baru CSR?

Tinggalkan Komentar

Mungkin yang sudah cukup lama berkecimpung di dunia CSR, perdebatan tentang apa yang menjadi definisi dari sebuah inisiatif CSR memang selalu tidak pernah berakhir.  Beberapa pihak berpendapat bahwa filantropi termasuk kegiatan CSR perusahaan.  Pihak lain berpandangan bahwa hanya mereka yang memasukkan CSR di dalam strategi bisnisnya lah yang layak dianggap sebagai perusahaan yang baik.

Kini, ketika social entrepreneurship semakin mewabah, ada anjuran untuk integrasi sosial dan bisnis di tingkat business model.  Pandangan ini diusung oleh Profesor Michael Porter dan Mark Kramer.  Ia bernama Creating Shared Value.

Intinya, pandangan ini menganjurkan tiga hal utama: redefinisi pasar dan produk (mirip seperti yang dianjurkan oleh C.K Prahalad dengan Fortune at The Bottom of the Pyramid-nya); redefinisi produktivitas sepanjang value chain; dan anjuran untuk membangun klaster industri pendukung (mirip dengan strategi pengembangan klaster pendukung di industri otomotif di Jepang).

Singkat kata, sebetulnya tidak ada hal yang baru.  Namun, yang menarik, Porter dan Kramer meramu tiga hal ini sebagai sebuah paket yang harus dikerjakan oleh perusahaan untuk menciptakan shared value.  Silakan tengok artikel Creating Shared Values yang saya tulis di Bisnis Indonesia edisi Minggu awal Mei kemarin.

Adakah Etika Bisnis?

Tinggalkan Komentar

Kejadian yang menimpa Citibank beberapa waktu yang lalu memang cukup mengejutkan.  Sebuah bank multinasional yang besar dan – sepatutnya – patuh kepada aturan yang ketat di negara asalnya, masih bisa bobol juga melalui fraud yang dilakukan oleh salah seorang karyawannya.

Tidak hanya itu, Bank yang sama kini juga tengah mengalami tuntutan hukum akibat meninggalnya salah seorang nasabahnya – konon akibat kekerasan yang dilakukan oleh debt collector-nya.

Memang semuanya masih simpang siur.  Kasusnya pun tengah ditangani polisi saat ini.  Tapi jika ini semua betul – bahwa memang Citibank kebobolan di dua tempat, karyawan yang rakus (greedy) di satu sisi dan penerapan kekerasan untuk menangani kasus piutang nasabah,  dimanakah etika bisnis? Apakah kita tengah mengalami sebuah krisis etika di dunia bisnis?  Silakan tengok artikel saya di Bisnis Indonesia Minggu dengan judul yang sama dengan posting blog ini.

Entri Lama

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.