Penting: Lingkungan Kondusif Untuk Berinovasi

Tinggalkan komentar

Tahukah anda bahwa salah satu faktor terpenting dalam mewujudkan inovasi adalah adanya lingkungan yang mendukung (enabling environment).  Survei persepsi para manajer senior perusahaan ternama di Indonesia seputar inovasi menunjukkan pentingnya inovasi dipahamid engan sangat baik oleh para pemimpin perusahaan.

Fakta-fakta yang ditunjukkan oleh survei ini sepertinya mengungkap bahwa tantangan untuk inovasi tampaknya lebih banyak berada di tingkat lower dan middle management.  Ada gap yang cukup signifikan antara formulasi strategi dan eksekusi inovasi.  Para manajer madya mungkin masih cukup canggung untuk menerapkan inovasi secara menyeluruh.

Google dan Morning Star memberikan contoh agar perusahaan dapat memberikan lingkungan yang kondusif – yang pada akhirnya meningkatkan kepercayaan diri para manajer madya.

Lihat ulasan lengkapnya disini.

Inovasi yang Beretika?

Tinggalkan komentar

Beberapa tahun belakangan ini kreativitas dan inovasi menjadi sesuatu yang banyak dibicarakan oleh berbagai kalangan di Indonesia.  Hampir semua pihak mengajurkan kreativitas dan inovasi untuk kemajuan.

Banyak pihak mulai mengadopsi komponen kreativitas dan inovasi dalam desain institusionalnya.  Banyak sekolah dan pendidikan tinggi yang mulai mengedepankan pembelajaran kreatif.  Tak sedikit pula perusahaan yang mengedepankan kreativitas dan inovasi sebagai ujung tombak untuk memenangkan kompetisi dan memperoleh pertumbuhan.

Yang menjadi tantangan kemudian adalah kenyataan bahwa inovasi adalah proses radikal.  Seberapa jauh etika penting di dalam inovasi?  Lihat ulasannya di artikel yang saya tulis di Bisnis Indonesia Minggu beberapa waktu yang lalu disini.

Kewirausahaan dan Inovasi Sosial

Tinggalkan komentar

Masyarakat Indonesia tengah digandrungi semangat kewirausahaan (entrepreneurship). Apalagi setelah pemberitaan yang dirilis di kantor berita BBC beberapa waktu yang lalu menyatakan bahwa Indonesia merupakan tempat yang paling kondusif untuk mengembangkan kewirausahaan.  Berbagai wacana yang berkembang di tengah masyarakat pun mendukung hal ini.  Namun, ada kekhawatiran bahwa semangat kewirausahaan ini akan meredup seiring dengan berbagai hambatan yang ditemui.

Quo vadis?  Lihat selengkapnya tulisan saya yang dimuat di Bisnis Indonesia Minggu disini.

Soal Etika Jurnalistik

3 Komentar

Ini rasanya bukan yang pertama kalinya terjadi, tapi kali ini saya nilai cukup menganggu.  Saya dikejutkan oleh sebuah berita yang dimuat di laman Republika Online tanggal 25 Agustus 2011 yang menyebutkan bahwa saya “berkicau” di media twitter seputar penampakan Malinda Dee, pesakitan kasus fraud Citibank yang kesohor beberapa waktu yang lalu, di mal Pacific Place.

Republika “mengutip” saya demikian dalam beritanya: “Wah, yang di Pacific Place, apa benar Malinda Dee lagi di Imae Shabu-Shabu lantai 5?” kata Ari Margiono dalam salah satu kicauannya di akun Twitter miliknya. Ia pun mempertanyakan, bukannya Malinda Dee sedang ditahan di Rutan Bareskrim Mabes Polri. “Bukannya harusnya ditahan lagi tuh orang?” ucapnya melanjutkan.

Mengejutkan buat saya karena ada dua masalah dari “reportase” wartawan Bilal Ramadan dan redaktur Krisman Purwoko disini.  Pertama, saya hanya melakukan retweet kicauan orang lain (@d99) yang menyebutkan ia melihat Malinda Dee di Pacific Place.  Retweet itu pun saya lakukan tanpa interpretasi.  Hanya dengan menambahkan kata “Wah!”.

Kedua, sang wartawan dan redaktur tidak melakukan cek dan ricek kepada saya dan juga (mungkin) kepada nara sumber utama untuk memastikan bahwa yang bersangkutan betul melihat Malinda Dee.  Padahal saya dengan mudah bisa dijangkau lewat twitter.

Lalu, jika demikian, dimana etika jurnalistik?  Bisa kah kita percaya lagi kepada pemberitaan Republika yang lain?

Sekedar Menjadi Beda

Tinggalkan komentar

Beberapa waktu yang lalu, di ranah dunia twitter dan media online, ada heboh soal pengiriman paket tak jelas secara serentak.  Beberapa pimpinan media, perusahaan advertising dan public relations, pimpinan perusahaan, serta beberapa tokoh di twitter mendapatkan kiriman sebuah peti mati dengan ukuran sekitar satu meter.

Usut punya usut, ternyata ini adalah undangan peluncuran buku baru Sumardi – seorang pegiat pemasaran dan CEO dari sebuah agensi yang baru akan diluncurkan.  Banyak pihak yang murka dan mengadukan hal ini ke polisi.  Sumardi pun digelandang ke kantor polisi untuk dimintai keterangannya.

Ia berkata bahwa tindakannya ini untuk menunjukkan bagaimana cara melakukan pemasaran yang menarik – agar tidak boring.

Nyentrik? Mungkin.  Inovatif dan Kreatif?  Rasanya tidak.  Mendapatkan perhatian? Pastinya.  Etiskah? Bisa jadi tidak.

Memasarkan produk/jasa tentunya harus etis.  Ada norma-norma yang harus dilihat dan dipandang sebagai rambu-rambu dalam memasarkan produk dan jasa.  Peti mati merupakan simbol kedukaan.  Mengirimkan peti mati bisa diartikan penerimanya sebagai aksi untuk mendoakan kematiannya.  Oleh karena itu, secara sinis peti mati sering dikirimkan kepada koruptor, atau sebagai alat teror.

Etika dalam pemasaran memang seringkali dilanggar atas nama kompetisi.  Para marketer sering melakukan hal-hal yang ‘mengganggu’ agar ia bisa menonjol dan beda dari produk/jasa lainnya.

Sumardi memang melakukan sesuatu yang berbeda.  Tapi apakah ia disukai oleh calon pelanggannya? Apakah tujuannya mengundang orang hadir dalam peluncuran bukunya melalui peti mati berhasil?

Jika tidak, untuk apa sekedar menjadi beda?

Lagi, Konsep Baru CSR?

Tinggalkan komentar

Mungkin yang sudah cukup lama berkecimpung di dunia CSR, perdebatan tentang apa yang menjadi definisi dari sebuah inisiatif CSR memang selalu tidak pernah berakhir.  Beberapa pihak berpendapat bahwa filantropi termasuk kegiatan CSR perusahaan.  Pihak lain berpandangan bahwa hanya mereka yang memasukkan CSR di dalam strategi bisnisnya lah yang layak dianggap sebagai perusahaan yang baik.

Kini, ketika social entrepreneurship semakin mewabah, ada anjuran untuk integrasi sosial dan bisnis di tingkat business model.  Pandangan ini diusung oleh Profesor Michael Porter dan Mark Kramer.  Ia bernama Creating Shared Value.

Intinya, pandangan ini menganjurkan tiga hal utama: redefinisi pasar dan produk (mirip seperti yang dianjurkan oleh C.K Prahalad dengan Fortune at The Bottom of the Pyramid-nya); redefinisi produktivitas sepanjang value chain; dan anjuran untuk membangun klaster industri pendukung (mirip dengan strategi pengembangan klaster pendukung di industri otomotif di Jepang).

Singkat kata, sebetulnya tidak ada hal yang baru.  Namun, yang menarik, Porter dan Kramer meramu tiga hal ini sebagai sebuah paket yang harus dikerjakan oleh perusahaan untuk menciptakan shared value.  Silakan tengok artikel Creating Shared Values yang saya tulis di Bisnis Indonesia edisi Minggu awal Mei kemarin.

Adakah Etika Bisnis?

Tinggalkan komentar

Kejadian yang menimpa Citibank beberapa waktu yang lalu memang cukup mengejutkan.  Sebuah bank multinasional yang besar dan – sepatutnya – patuh kepada aturan yang ketat di negara asalnya, masih bisa bobol juga melalui fraud yang dilakukan oleh salah seorang karyawannya.

Tidak hanya itu, Bank yang sama kini juga tengah mengalami tuntutan hukum akibat meninggalnya salah seorang nasabahnya – konon akibat kekerasan yang dilakukan oleh debt collector-nya.

Memang semuanya masih simpang siur.  Kasusnya pun tengah ditangani polisi saat ini.  Tapi jika ini semua betul – bahwa memang Citibank kebobolan di dua tempat, karyawan yang rakus (greedy) di satu sisi dan penerapan kekerasan untuk menangani kasus piutang nasabah,  dimanakah etika bisnis? Apakah kita tengah mengalami sebuah krisis etika di dunia bisnis?  Silakan tengok artikel saya di Bisnis Indonesia Minggu dengan judul yang sama dengan posting blog ini.

Inovasi dan Design Thinking

Tinggalkan komentar

Tahukah anda bahwa ada sebuah metode yang tengah naik daun belakangan ini?  Ialah “design thinking”.  Metode ini bisa membantu anda untuk jauh lebih kreatif dan lebih inovatif.  Metode ini banyak dipergunakan di berbagai disiplin studi.  Bisnis salah satunya.

Di banyak sekolah bisnis, design thinking kini menjadi kurikulum yang diajarkan kepada mahasiswanya.  Tujuannya tak lain adalah untuk mendorong agar para lulusan sekolah bisnis menjadi lebih kreatif dan inovatif.  Mereka dituntut tidak hanya menggunakan otak kirinya (logika, struktur, dsb) dalam memecahkan masalah, tapi juga mempergunakan otak kanannya (kreativitas).

Mau tahu tentang design thinking lebih lanjut?  Silakan lihat artikel Menuai Inovasi Melalui Design Thinking di Bisnis Indonesia Minggu.

Berubah Bersama CSR

Tinggalkan komentar

Apa yang kita lakukan setelah mengembangkan program CSR?  Tentunya, kita harus mengkomunikasikannya dengan baik.  Tapi bagaimana komunikasi CSR dapat dilakukan tanpa terkesan pamer dan pamrih?

Ada beberapa cara untuk melakukan hal ini.  Namun, yang terpenting yang harus diperhatikan oleh pelaku CSR adalah komunikasi harus dilakukan secara otentik, tidak klise, dan memberdayakan.  Ia harus bisa membantu untuk mensejahterakan penerima manfaat dari program CSR.

Silakan lihat artikel lengkap yang saya tulis di Kolom Marketing, Harian Bisnis Indonesia Minggu, 2 Januari 2011 disini.

#BukuUntukPapua

3 Komentar

Diawali dengan diskusi santai antara saya (@arimargiono), Tuhu (@tuhunugraha), Dika (@alivano) dan Candy (@candysihombing) di sebuah grup BBM (Blackberry Messenger), kami kok merasa bahwa seharusnya ada yang bisa kita lakukan untuk membantu mereka yang membutuhkan.

Diskusi demi diskusi berlalu, chat demi chat berkembang menjadi ide yang semakin fokus dan mengerucut.  Akhirnya, kami semua sepakat untuk mengajak kita semua untuk membantu pendidikan saudara-saudara kita di Papua (Provinsi Papua dan Papua Barat).

Perlu dicatat bahwa kegiatan ini murni sosial dan tidak ada perusahaan yang terlibat sebagai sponsor dan ini bukan bagian dari program CSR perusahaan.  Kegiatan ini semata-mata muncul dari keinginan kita untuk melakukan sesuatu.

Konsepnya sederhana:  Kami berempat percaya bahwa buku adalah jendela dunia.  Kami percaya bahwa memperkaya koleksi buku di perpustakaan sekolah tidak hanya akan dapat membantu meningkatkan pengetahuan murid, tapi juga guru.  Oleh karena itu, buku apa pun yang mereka terima, akan bermanfaat.

Nah, karena Papua begitu luas, kami merasa siapa pun bisa berkontribusi dan berbagi beban dalam meningkatkan jumlah koleksi buku di setiap perpustakaan di SD atau SMP Negeri di sana.  Ingat, buku apa pun akan dapat bermanfaat buat mereka.

Caranya sederhana:  kirim lah buku bekas yang anda punya ke salah satu sekolah di Papua.  Semakin banyak donatur yang mengirimkan, semakin besar pula kesempatan semua sekolah di Papua memperkaya koleksi perpustakaannya.

Supaya jelas dan tidak menimbulkan kecurigaan, kami merasa setiap buku yang dikirim perlu diberi pengantar yang menjelaskan sang pengirim, tujuan dikirimkan buku ini, dan nomor telepon seluler yang dapat dihubungi.  Nah, begitu buku diterima, kami berharap guru atau kepala sekolah dapat membalas melalui SMS, sekaligus sebagai konfirmasi diterimanya buku tersebut!

Lebih jelasnya, ini langkah-langkah yang bisa anda lakukan untuk berpartisipasi dalam ‘program’ “Buku Untuk Papua”:

1.  Pilih buku bekas yang kira-kira bermanfaat untuk sekolah dasar.

2. Pilih sekolah tujuan di Papua.  Daftar sekolah di Propinsi Papua bisa anda peroleh disini.  Untuk data sekolah di Propinsi Papua Barat ada disini.  Ada sekitar 3,000 SD di seluruh Papua.  Jika #BukuUntukPapua bisa mengirimkan 6,000 buku setiap bulannya, setidaknya dalam satu tahun, setiap sekolah dasar di Papua akan mendapatkan 24 koleksi buku baru yang bisa dimanfaatkan oleh guru dan murid disana.

2.  Cetak Surat Keterangan yang bisa anda download Surat Pengantar.

3.  Masukkan Buku di amplop coklat dan sertakan Surat Keterangan di dalam Amplop tersebut.

4.  Kirim lah buku tersebut melalui Kantor Pos, TiKi atau jasa pengiriman lain.

5.  Jangan lupa untuk foto dan tweet aktivitas anda di @bukuuntukpapua dan ajak yang lain untuk melakukan hal yang sama.

Ayo kita kirim #BukuUntukPapua!

Entri Lama

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.