Ini rasanya bukan yang pertama kalinya terjadi, tapi kali ini saya nilai cukup menganggu.  Saya dikejutkan oleh sebuah berita yang dimuat di laman Republika Online tanggal 25 Agustus 2011 yang menyebutkan bahwa saya “berkicau” di media twitter seputar penampakan Malinda Dee, pesakitan kasus fraud Citibank yang kesohor beberapa waktu yang lalu, di mal Pacific Place.

Republika “mengutip” saya demikian dalam beritanya: “Wah, yang di Pacific Place, apa benar Malinda Dee lagi di Imae Shabu-Shabu lantai 5?” kata Ari Margiono dalam salah satu kicauannya di akun Twitter miliknya. Ia pun mempertanyakan, bukannya Malinda Dee sedang ditahan di Rutan Bareskrim Mabes Polri. “Bukannya harusnya ditahan lagi tuh orang?” ucapnya melanjutkan.

Mengejutkan buat saya karena ada dua masalah dari “reportase” wartawan Bilal Ramadan dan redaktur Krisman Purwoko disini.  Pertama, saya hanya melakukan retweet kicauan orang lain (@d99) yang menyebutkan ia melihat Malinda Dee di Pacific Place.  Retweet itu pun saya lakukan tanpa interpretasi.  Hanya dengan menambahkan kata “Wah!”.

Kedua, sang wartawan dan redaktur tidak melakukan cek dan ricek kepada saya dan juga (mungkin) kepada nara sumber utama untuk memastikan bahwa yang bersangkutan betul melihat Malinda Dee.  Padahal saya dengan mudah bisa dijangkau lewat twitter.

Lalu, jika demikian, dimana etika jurnalistik?  Bisa kah kita percaya lagi kepada pemberitaan Republika yang lain?